Senin, 13 Mei 2013

PENYESUAIAN DIRI

Tugas Softskill B.Indonesia 2


Manusia sejak dilahirkan akan berhadapan dengan lingkungan yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh manusia diawali dengan penyesuaian secara fisiologis, yang dikenal dengan adaptasi. Bayi yang baru lahir akan menangis, karena ia dituntut untuk bernafas, dan berfungsinya organ-organ tubuh. Pada dasarnya manusia telah diberikan kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungannya. Sistem yang mengatur proses adaptasi ini disebut dengan homeostatis, bagaimana mata berkedip ketika ada debu yang masuk ke dalam mata, pori-pori mengeluarkan keringat ketika tubuh kepanasan. Sistem homeostatis ini merupakan usaha tubuh untuk beradaptasi dan mengembalikan keseimbangan tubuh. Tetapi manusia seiring dengan perkembangannya, tidak hanya membutuhkan adaptasi, juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri secara psikologis yang sering disebut dengan ‘adjustment’ (penyesuaian diri). Ahli Psikologi mendefinisikan penyesuaian diri (adjustment) sebagai usaha individu dalam mengatasi kebutuhan, ketegangan, frustrasi serta konflik dan tercapainya keharmonisan antara tuntutan diri dan lingkungan dengan melibatkan proses mental dan perilaku. Jadi dalam penyesuaian diri (adjustment) terdapat dua bentuk proses, yaitu proses mental/psikologis dan perilaku.
Manusia sejak lahir telah dihadapkan dengan lingkungan, yang menjadi sumber stres. Cara-cara yang dilakukan untuk menghadapi lingkungan (stress) beranekaragam, dan keberhasilan dalam penyesuaian diri pun beranekaragam. Bagi mereka yang berhasil menyesuaikan diri, maka akan dapat hidup dengan harmonis, tetapi bagi mereka yang gagal akan mengalami maladjustment yang ditandai dengan perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan atau gangguan yang lain (psikotik, neurotik, psikopatik). Stres terjadi apabila seseorang mengalami tekanan (pressure) dari lingkungan atau ia mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhannya yang mengakibatkan frustrasi dan ia tidak mampu mengatasinya. Dalam menghadapi stres ini akan sangat dipengaruhi oleh individu yang bersangkutan, bagaimana kepribadiannya, persepsinya, dan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah.
Tindak kriminal, penyalahgunaan obat-obatan dan narkotika adalah contoh dari kegagalan dalam penyesuaian diri terhadap tekanan dan frustrasi yang dialami dari lingkungan. Karena tuntutan dari kemiskinan yang dideritanya, seorang individu mampu melakukan tindak kriminal seperti menodong, mencuri, bahkan membunuh. Begitu pula dengan perubahan yang dialami oleh seseorang dalam lingkungannya, perubahan tersebut akan menjadi sumber stres, dan ia dituntut untuk menyesuaikan diri sehingga terbentuk kembali keharmonisan antara kebutuhan dirinya dan tuntutan lingkungan. Penyesuaian diri yang baik (good adjustment) adalah apabila seseorang menampilkan respon yang matang, efisien, memuaskan, dan wholesome. Yang dimaksud dengan respon yang efisien adalah respon yang hasilnya sesuai dengan harapan tanpa membuang banyak energi, waktu atau sejumlah kesalahan. Wholesome maksudnya adalah respon yang ditampilkan adalah sesuai dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan sesama manusia, dan hubungannya dengan Tuhan.
Penyesuaian diri bersifat relatif, karena tidak ada orang yang mampu menyesuaikan diri secara sempurna. Alasan pertama penyesuaian diri bersifat relatif adalah melibatkan kapasitas seseorang dalam mengatasi tuntutan dari dalam dan dari lingkungan. Kapasitas ini bervariasi antara setiap orang, karena berkaitan dengan kepribadian dan tingkat perkembangan seseorang. Kedua adalah karena kualitas penyesuaian diri bervariasi antara satu masyarakat atau budaya dengan masyarakat atau budaya lainnya. Dan terakhir adalah karena adanya perbedaan-perbedaan pada setiap individu, setiap orang mengalami masa naik dan turun dalam penyesuaian diri.
                                



PENTINGNYA ASERTIF

Tugas Softskill B.Indonesia 2


A.    Pengertian Asertif

Asertif adalah kemampuan untuk mengomunikasikan pikiran, perasaan dan keinginan secara jujur pada orang lain tanpa merugikan orang lain.
Apabila kita mampu mengungkapkan perasaan negatif (marah, jengkel) secara jujur sesuai dengan apa yang kita rasakan tanpa menyalahkan orang lain, maka kita telah mampu berperilaku asertif. Berperilaku asertif, tidak hanya terbatas untuk mengungkapkan perasaan yang positif (senang) tetapi juga yang negatif.
AGRESIF : lawan dari asertif = perilaku menyerang orang lain dengan kata-kata yang kasar, mempermalukan, merendahkan, melecehkan, menyalahkan, marah-marah yang cenderung merugikan orang lain.
NON ASERTIF : tidak mengekspresikan pikiran dan perasaan pada orang lain dengan tidak mengatakan apapun dan menggerutu dalam hati yang sama sekali tidak dipahami oleh orang lain.

B.    Karakteristik Orang Asertif

Orang yang berperilaku asertif memiliki karakteristik antara lain :
1.     Mampu dan terbiasa mengekspresikan pikiran dan perasaan pada orang lain.
2.     Meminta pertolongan pada orang lain pada saat membutuhkan pertolongan.
3.     Sering bertanya pada orang lain pada saat sedang bingung.
4.     Pada saat berbeda pendapat dengan orang lain, mampu mengungkapkan pendapatnya secara jujur dan terbuka.
5.     Memandang wajah orang yang diajak bicara pada saat berbicara dengannya.
6.     Pada saat tidak ingin melakukan sesuatu pekerjaan, mampu berkata tidak.

C.     Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif
Faktor pengalaman masa kanak-kanak. Faktor tersebut dapat mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain :
1.     Apabila pada masa kanak-kanak terbiasa takut untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan karena takut orang lain tidak menyukai kita dan takut mengecewakan orang lain, maka hal ini dapat mengakibatkan kita berperilaku non asertif ketika dewasa.
2.     Bila pada masa kanak-kanak, kita terbiasa meluapkan emosi tanpa kontrol maka hal ini mengakibatkan kita berperilaku agresif ketika dewasa.

3 Pola Interaksi

Ada 3 pola interaksi yang terbentuk sebagai hasil pengalaman pada masa kanak-kanak, yaitu :
1.     I’m not OK – You’re OK
Saya tidak OK – kamu OK, maksudnya adalah : saya harus yakin bahwa apa yang saya katakan tidak akan menyinggung perasaanmu. Pola interaksi ini merupakan perilaku non asertif, karena membiarkan diri kita pasif dengan alasan takut mengecewakan orang lain.
2.     I’m OK – You’re not OK
Saya OK – kami tidak OK. Maksudnya : orang lain patut mendapatkan kemarahan dan hinaan dari saya. Pola ini merupakan perilaku agresif, karena bila kita membuat orang lain tidak nyaman dengan apa yang telah kita katakan.
3.     I’m OK – You’re OK
Saya OK – kamu OK. Maksudnya : saya bebas mengungkapkan apa yang saya rasakan dan saya bertanggung jawab terhadap perasaan saya. Pola interaksi ini merupakan perilaku asertif karena kita bebas mengungkapkan apa yang kita rasakan tanpa membuat orang lain merasa tidak nyaman.

D.    Dampak Perilaku Asertif
Perilaku asertif seseorang dapat menimbulkan dampak seperti :
1.     Tidak membiarkan orang lain mengambil manfaat dari kondisi yang kita alami, dan orang lain juga memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
2.     Tidak berperilaku agresif pada orang lain, bahkan menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka.
3.     Kedua belah pihak yang berkomunikasi merasa nyaman, tidak ada yang ingin menyakiti lawan bicaranya dan tidak ada yang merasa disakiti hatinya.
4.     Tidak ada pihak yang merasa disalahkan dan dihina oleh keberadaan emosi negatif yang dirasakan oleh lawan bicaranya.
5.     Lawan bicara tidak terpancing untuk memberikan respons emosional.

E.     Cara Menumbuhkan Perilaku Asertif
Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain :
1.     Berusahalah dan biasakanlah berbicara dengan rasa percaya diri.
2.     Berusahalah dan biasakanlah mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan jelas pada orang lain.
3.     Biasakanlah memandang wajah orang yang Anda ajak bicara.
4.     Biasakanlah mengungkapkan pendapat kita secara jujur dan terbuka pada orang lain.
5.     Apabila Anda tidak ingin melakukan suatu pekerjaan maka katakan “tidak” (dengan kata-kata, nada, alasan yang bisa dimengerti serta diawali “maaf”).
6.     Responslah emosi Anda dengan cara yang sehat untuk menghindari perilaku agresif.

Beberapa Langkah untuk Merespons Emosi Secara Sehat
1.     Sadarilah emosi Anda, perhatikan emosi apa yang Anda rasakan. Misalnya : Apakah Anda takut? Apakah Anda senang?
2.     Akuilah emosi Anda : Perhatikan emosi apa yang Anda rasakan dan kira-kira seberapa kuat.
3.     Selidikilah emosi Anda tersebut tanpa ada penilaian. Katakan “Saya merasa terlalu tegang, jangan-jangan saya akan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin untuk dikatakan”.


MENUNDA PERNIKAHAN DINI, PILIHAN YANG SMART


Tugas Softskill B.Indonesia 2

Dunia telah berubah, mau tidak mau remaja harus mengikutinya. Mengikuti, bukan berarti kita mau melakukan apapun tetapi kita harus selektif memilih dan memilahnya. Kendalanya adalah kadang kita dikatakan nggak gaul kalau      nggak mengikuti dan orang tua serta masyarakat akan menilai kita anak nakal kalau kita berlebihan mengikutinya.         Remaja harus pandai menempatkan diri dalam pergaulan yang serba modern seperti saat ini
Perkembangan ukuran dan bentuk tubuh beserta organ special  yang menyertai sering kali menyita pikiran remaja di masa-masa remaja ini. Pertanyaan – pertanyaan menggunung disekitar perkembangan fisik dan psikologis remaja. Cantikkah saya? Normalkah ukuran tubuh saya? Menarikkah saya? Adalah contoh pertanyaan-pertanyaan pada diri remaja. Sebenarnya yang disebut ”normal” atau ”ideal” itu ukurannya apa? Dan siapa yang berhak untuk ngasih batasan? Asal kita tahu, citra diri kita termasuk citra pribadi  kita enggak dinilai dari hal ini. Namun menyangkut perilaku positif dan bertanggung jawab di mana aspek biologis (perasaan suka dan disukai)), aspek psikologis (menggunakan perasaan dan pikiran), dan aspek sosial di mana norma-norma yang ada ikut memengaruhi dalam satu kesatuan. Setiap orang adalah unik. Spesial atau enggaknya bukan ditentukan oleh bentuk dan ukuran tubuh yang kita miliki. Namun menyangkut perilaku yang kita tunjukkan dan bagaimana kita menempatkannya.

Putuskan untuk menunggu
Kita semua pasti sudah tahu konsekuensi yang kita tanggung kalau melakukan hubungan seks sebelum nikah. Dalam keyakinan apa pun hal ini merupakan perbuatan dosa dan bisa menimbulkan kehamilan di luar nikah. Sementara jika dilihat secara biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi hampir dipastikan seusia kita belum siap menjadi ayah dan ibu. Apalagi jika dilakukan secara enggak aman, maka akan berpotensi terhadap penularan HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Dalam pertemanan atau di lingkungan kita pun bisa menjadi enggak percaya diri (pe-de) lagi dalam pergaulan. Perlu juga dipikirkan, bagaimana dengan kesempatan untuk sekolah atau berkarier demi masa depan kita? Coba renungkan, betapa banyak konsekuensi yang harus kita tanggung.
Sementara jika kita menunda hubungan seks hingga saat yang sah (dalam perkawinan), kita dapat menghitung keuntungan-keuntungan yang bisa didapat.

(1) Kesempatan untuk menikmati hidup dan merencanakan masa depan
Dengan menunda hubungan seks memberikan kita lebih banyak waktu untuk menikmati hidup, bermain bersama teman-teman, belajar tentang mengenal lawan jenis, belajar tentang menyiapkan diri untuk pernikahan, dan dapat menyiapkan diri untuk meraih masa depan yang baik.

(2) Terhindar dari stres
Tentu saja. Kita enggak perlu stres setiap hari memikirkan apakah pacar kita akan hamil atau enggak. Kita enggak perlu memikirkan bagaimana kalau kita enggak perawan lagi. Atau enggak perlu memikirkan apakah kita terkena HIV/AIDS serta infeksi menular seksual lainnya.

(3) Lebih percaya diri (pe-de)
Kita lebih yakin dengan konsep diri kita. Bangga dan menjadi percaya diri. Dengan memandang diri lebih positif akan membantu kita untuk memandang orang lain secara positif, termasuk hubungan yang kita bangun. Kita menjadi percaya diri karena melakukan hal-hal positif dan merasakan kebahagiaan dan kepuasan hidup.

(4) Membuat hidup lebih sehat
Menunda hubungan seks menghindari risiko penyakit dan kerusakan terhadap tubuh kita. Kita dapat menjaga tubuh kita dan orang lain dari penyakit dan kerusakan. Jadi, kalau tubuh sehat kita dapat melakukan aktivitas secara baik dan menyenangkan.
Jawa Pos, menuliskan bahwa salah satu sebab kanker serviks pada wanita adalah karena menikah diusia dibawah 18 tahun. Usia kalian baru 12-15 tahun, jadi sepantasnyalah kalau belajar untuk meraih cita-cita, hidup berprestasi dalam menyongsong masa depan adalah yang utama bagi remaja. Itu sebabnya mengapa menunda hubungan seks kita katakan sebagai sebuah pilihan smart.