Senin, 24 Januari 2011

Phobia

Secara umum, phobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk ngejauhin sesuatu yang ditakuti itu.
Bedanya sama rasa takut biasa adalah, hal yang ditakuti sebenarnya nggak menyeramkan untuk sebagain besar orang. Contohnya Rachel Green dalam serial Friends. Tokoh yang di perankan Jennifer Anniston ini ceritanya selalu ngejauhin ayunan karena waktu kecil, rambutnya pernah nyangkut di rantai pegangannya.
Kalo udah parah, penderitanya bisa terserang panik saat ngeliat hal yang dia takutin. Sesak nafas, deg-degan, keringat dingin, gemetaran, bahkan sampe nggak bisa menggerakkan badannya.
Dunia Psikologi ingin sedikit membahas mengenai pengertian phobia. Phobia merupakan suatu mekanisme pelarian diri dari konflik-konflik bathiniah dari jiwa seseorang. Mungkin ada sekitar 80 atau bahkan 100 macam phobia yang dikenal orang sekarang. Phobia- phobia itu menyebabkan timbulnya ketakutan yang absurd dan tak masuk akal. Biasanya phobia-phobia tersebut berhubungan dengan pengalaman-pengalaman yang terpendam, yang ditekan dalam-dalam dan dilupakan.
Phobia-phobia itu dipandang sebagai emosi-emosi substitusi dan seringkali disebut neurosis yang ditekan (repressed neuroses). Ketakutan itu menimbulkan sesuatu hal yang tak menyenangkan dan telah ditekan dalam lubuk jiwa kita. Dengan kata lain phobia itu punya fungsi tertentu, yakni menyembunyikan atau mengalihkan suatu rasa takut yang seluruhnya berbeda yaitu rasa takut yang pernah sangat menyakitkan kesadaran kita. Jadi phobia merupakan suatu pelarian diri dari sejumlah konflik psikis dari dalam diri kita. Rasa takut akan guruh dan halilintar mungkin dapat menunjukkan adanya ketakutan pada suara ayah yang galak dan suka marah-marah.
Ketakutan-ketakutan atau distorsi emosional itu dapat ditelusuri kembali kedalam pengalaman-pengalaman semasa kecil kita yang telah terpendam. Pengalaman-pengalaman yang ditekan ini menimbulkan kecemasan kronis dan tekanan batin yang hebat. Kecemasan tersebut disalurkan melalui saluran-saluran fisik dan pada waktunya nanti akan semakin memperburuk phobia- nya. Jika sudah terjadi seperti itu maka ‘lingkaran setan’ terus muncul tanpa berkesudahan.Yang akhirnya akan membuat anda terus menerus ‘sakit’.

Jenis phobia pun macam-macam, ada yang takut ketinggian, takut gelap, takut naik lift, takut naik pesawat terbang, dll. Untuk dua kasus terakhir di atas, ada seorang ibu yang menderitanya sekaligus. Ketika suaminya dirawat di rumah sakit, tepatnya di lantai 9, si ibu pun nggak bisa jenguk karena nggak berani naik lift. Ia juga masih menunda kepergiannya untuk menunaikan ibadah Haji karena nggak berani naik pesawat terbang!
Johnny Depp dan P. Diddy juga ternyata menderita coulrophobia alias takut sama badut. Sedangkan mantan suami Angelina Jolie, Billy Bob Thornton takut sama mebel antik! Aneh kan?! Karena sifatnya yang nggak rasional itu, dunia medis menganggap phobia sebagai gangguan psikologis. Dan penelitian memang membuktikan bahwa phobia termasuk salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang paling sering ditemui di masyarakat dan merupakan gangguan psikologis terbesar ketiga setelah depresi dan kecanduan alkohol.
Sumber :


jenis phobia
Tadi pagi saya buka koran Jawa Post ada sebuah ulasan mengenai phobia. Saya kok rasanya kenal dengan model-nya, setelah saya baca ternyata Yu-Chenk (Ayu Vidia) teman sewaktu kuliah. Saya baru tahu kalau Ayu phobia pada buah pisang, padahal kedengarannya konyol dan remeh temeh,tapi jika dipaksa ia akan pingsan. Yang anehnya ia tidak tahu apa penyebab phobia-nya.
Phobia pasti ada penyebabnya, seperti kenangan yang tidak mengenakkan atau hanya sekedar bayangan ngeri terhadap suatu phobia tersebut. Ada juga phobia remeh temeh lain: phobia buah rambutan, karet gelang, kancing baju. Memang satu-satunya cara menghilangkan phobia adalah melawan phobia itu.

Dulu saya phobia pada kereta api terutama lintasan kereta api. Setiap sebelum melewati lintasan apalagi saat rambu-rambu kereta menyala, bukan main takutnya. Yang menyebabkan saya takut karena dua kali saya tepat diatas lintasan kereta, rambu-rambu menyala ditambah lagi saya melihat lampu kereta hampir dekat dan palang lintasan dua arah mulai menutup. Dan phobia itu hilang karena terpaksa setiap dua hari sekali harus melewati lintasan kereta untuk ke suatu tempat. Tuntutan Tugas Akhir. (Tapi perasaan saya peka terhadap lintasan KA, dalam jarak beberapa meter saya menebak ’akan ada KA lewat’. Dan benar, belum saya melewati lintasan, rambu KA menyala. Atau ini ada hubungan dengan Intuisi?)

Phobia yang lain ke Dokter Gigi. Saya paling takut jika ke dokter gigi, ngeri melihat kursi di ruang praktek dokter gigi. Pikiran ngelantur kemana-mana begitu melihat kursi penyiksaan di ruang praktek dokter gigi (ini karena nonton film final destination2).
(Sedikit informasi, pertama kali karang gigi dibersihkan sebelum dibehel dokter saya sampai komentar, “Jangan tegang, rilex saja. Mengawat gigi adalah pekerjaan yang menyenangkan, nggak se-ngeri cabut gigi”. Itu kan karena sudah profesi dokter... saya-kan pasien apalagi baru pertama kali ya jelas ngeri, plus phobia...) Tapi setelah gigi saya dibehel, ke dokter gigi adalah kegiatan paling menyenangkan! ^___^

Dan beberapa phobia remeh temeh lainnya. Phobia ketinggian dan sayur terong. Tapi dua phobia tersebut sudah sembuh sekarang, karena saya lawan...

Cuma satu phobia yang belum sembuh. Phobia tempat gelap! Saya baru menyadarinya beberapa tahun terakhir. Apa lagi gelap yang tiba-tiba seperti mati lampu. Jika mati lampu saya pasti teriak-teriak. Pernah suatu saat mati lampu dan saya di rumah sendirian. Mau teriak panggil orang tapi tak ada orang di rumah. Akhirnya pikiran ngelantur kemana-mana: bagaimana kalau tiba-tiba ada setan di depan saya (ini karena khayalan saya tinggi setelah mendengar pengalaman teman saat mati lampu ada sosok wanita mengerikan berdiri tepat di hadapannya), bagaimana kalau ada orang yang masuk ke dalam rumah saat rumah gelap gulita (ini karena terlalu sering nonton film triler), jangan-jangan mati lampu karena ulah rampok (ini terlalu ’Lebay’), dsb. Saya kepikiran untuk jalan pelan-pelan ke dalam kamar mengambil HP untuk penerangan, untung akhirnya tak lama kemudian lampu menyala. Langsung saya dekap emergency light, jaga-jaga kalau mati lampu lagi. Padahal hanya mati lampu sekejap, tapi nafas saya sesak dan rasanya sakit setiap menarik nafas. Phobia gelap, bagaimana cara menyembuhkannya?
Description: http://signatures.mylivesignature.com/54487/263/763F9C48E3A721135AD6B4699BE34C40.png
Sumber :
http://debolokurowo.blogspot.com/2009/03/phobia.html

Pengalaman Pribadi

Pertama kali saya terjun ke dunia kerja,saya tidak tahu apa itu kerja.karena pada saat itu umur saya masih cukup sangat belia 18 tahun umur saya waktu itu,umur yang sangat muda bukan?
Sebenarnya saya tidak ingin bekerja selulus dari SMA,keinginan saya kuliah waktu itu,tetapi karena ketiadaan biaya akhirnya saya pendam cita –cita saya,dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya bertekad kalau suatu saat nanyi saya harus kuliah,banyak yang mencibir saya waktu itu ketika saya kemukakan isi hati saya,cibiran mereka justru yang menjadi motivasi saya untuk lebih giat,dan semangat.
Hari berganti hari,bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun,setelah kurang lebih 4 tahun saya bekerja,akhirnya saya dapat mewujudkan cita-cita saya,walau agak tertatih,dengan berganti – ganti pekerjaan,dari pekerjaan satu ke yang pekerjaan lain tetapi itu semua tidak menyurutkan keinginan dan cita–cita saya.
Dan sekarang saya tengah menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi swasta,sekalipun saya tengah menempuh pendidikan, saya tetap bekerja,banyak suka duka yang saya lalui,apalagi apabila tugas dari dosen menumpuk atau ketika ujian,sedangkan pagi saya bekerja. Semuanya itu justru membuat saya tertantang,pada kenyataanyapun saya bisa melalui semua itu,walaupun pastinya dengan sedikit membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.



Kamis, 23 Desember 2010

persamaan dan perbedaan persamaan dan penjualan

Persamaan dan perbedaan antara pemasaran dan pemasaran blog forum



Sosial media adalah memberikan pengguna ruang besar untuk media online baru, ia memiliki partisipasi, keterbukaan, komunikasi, komunitas, fitur konektivitas. Khas aplikasi media sosial adalah blog, forum, wiki, podcast, SNS, berkicau dan aplikasi Web2.0 lainnya. Sosial media jatuh tempo dan pengembangan, mempromosikan munculnya kata pemasaran mulut; media sosial, kata pemasaran mulut telah menjadi saluran utama pemasaran online.

Blog pemasaran forum pemasaran dan firman pemasaran mulut sebagai saluran pemasaran komponen penting, perlu untuk membahas secara terpisah. Setelah semua, sebagai komponen penting dari media sosial, blog dan forum, pengaruhnya adalah jaringan yang lebih kuat; dan blog dan forum untuk mencapai penampilan yang sama, air aktual dan Yung api, blog dan forum juga akan memimpin pembangunan masa depan kata pemasaran mulut.

Blog dan forum sebagai UGC (user created content) pola khas masing-masing hampir setengah. N Forum telah ada selama bertahun-tahun, dan di dunia Cina ke ekstrem; rambut rock posting blog, telah bermunculan di mana-mana beberapa tahun terakhir, trafik dan popularitas hampir sama ke Forum.

Apakah tema inti dari Forum, semua konten yang sesuai dengan tema, dan pengguna terlebih dulu harus memilih tema favorit, dan kemudian mengungkapkan diskusi dilihat.

Blog adalah sebuah ideologi pribadi sebagai inti, semua konten yang pemikiran pribadi dari blogger sekitar awal topik dan diskusi.

Dapat hanya dipahami sebagai blog untuk melihat adalah produk yang lengkap, dan dibuat dengan tangan, sedangkan Forum jalur perakitan jenis produksi, ditunjukkan oleh berbagai komponen dari sebuah lini produksi.

Oleh karena itu, konsep mereka, untuk menarik dua orang banyak yang berbeda.

Aku tidak merendam forum, jadi untuk saya ini jenis pengguna, Aku meletakkan forum sebagai "kamus", blog sebagai fiksi "." Bila kamus diperlukan untuk dua kali waktu untuk melihat blog gratis.

Blog dan forum dapat dikatakan bahwa kedua karakteristik mereka sendiri, pengguna target memiliki sedikit tumpang tindih, total account hampir semua pengguna media sosial.

Di WoPush menyediakan perusahaan dalam proses pemasaran mulut kata, sesuai dengan karakteristik produk perusahaan, karakteristik target dan kebutuhan pemasaran kelompok pengguna, memilih strategi pemasaran yang paling cocok dan media, kondisi setempat, untuk mencapai pemasaran yang terbaik.


sumber : http://www.tekbar.net/id/brands-and-marketing/similarities--and-differences-between-marketing-and.html

Rabu, 01 Desember 2010

TARI JAIPONG

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.
Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.
Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

[sunting] Berkembang

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.
Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni
SUMBER :
http://id.wikipedia.org/wiki/Jaipongan

TARI BEDHAYA KETAWANG

Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tari yang amat disakralkan dan hanya digelar dalam setahun sekali. Konon di dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram.
Perbendaharaan beksan (tarian) tradisi keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari berbagai ragam. Dilihat dari fungsinya, tarian itu bisa dibagi dalam 3 macam. Yaitu tari yang punya sifat magis religius, tari yang menggambarkan peperangan, dan tari yang mengandung cerita (drama).

Masing-masing tari tercipta karena ada sejarahnya yang dipengaruhi oleh suasana saat itu. Berbagai macam jenis tari yang diciptakan oleh pengramu keraton bukan asal buat, melainkan dipadu dengan masukan dari kalangan lelembut yang punya hubungan baik dengan keluarga keraton. Sehingga ada muatan mistis dan gaib.
Tari yang punya sifat magis-religius ini, seperti Bedhaya biasanya diperagakan oleh kaum putri yang berjumlah 7 atau 9 orang, sedang yang diperagakan oleh 4 putri biasa disebut Tari Srimpi.
Asal-usul Tari Bedhaya Ketawang
Asal mulanya tari Bedhaya Ketawang hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Dalam perkembangan selanjutnya, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang.
Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton Surakarta Hadiningrat. Iramanya pun terdengar lebih luruh (halus) dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan)
Dikatakan tari Bedhaya karena tari ini menyesuaikan dengan gendingnya, seperti Bedhaya Gending Ketawang Ageng (Karya Penembahan Senapati) Bedhaya Gending Tejanata dan Sinom (karya PB IX) Bedhaya Pangkur (karya PB VIII), Miyanggong (karya PB IV), Duradasih (karya PB V), dan lainnya.
Siapa sebenarnya pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang masih simpang siur.
Bedoyo Ketawang misalnya menurut Sinuhun Paku Buwono X menggambarkan lambang cinta kasihnya Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senopati, segala gerak melambangkan bujuk rayu dan cumbu birahi, walaupun dapat dielakkan Sinuhun, Kanjeng Ratu Kidul tetap memohon agar Sinuhun ikut bersamanya menetap di dasar samodera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana ( Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Rama Wijaya di dasar lautan) dan terjadilah Perjanjian/Sumpah Sakral antara Kanjeng Ratu Kidul dan Raja Pertama tanah Jawa, yang tidak dapat dilanggar oleh raja-raja Jawa yang turun temurun atau raja-raja penerus.
Satu sumber menyebutkan bahwa tari ini diciptakan oleh Penembahan Sanapati-Raja Mataram pertama-sewaktu bersemadi di Pantai Selatan. Ceritanya, dalam semadinya Penembahan Senapati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Ratu Kidul) yang sedang menari. Selanjutnya, penguasa laut Selatan ini mengajarkannya pada penguasa Mataram ini.
Sumber lainnya menyebutkan bahwa tari Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (cucu Panembahan Senapati). Menurut Kitab Wedhapradangga yang dianggap pencipta tarian ini adalah Sultan Agung (1613-1645), raja terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut Selatan. Ceritanya, ketika Sultan Agung sedang bersemadi, tiba-tiba mendengar alunan sebuah gending. Kemudian Sultan Agung berinisatif menciptakan gerakan-gerakan tari yang disesuaikan dengan alunan gending yang pernah didengar dalam alam semadinya itu. Akhirnya, gerakan-gerakan tari itu bisa dihasilkan dengan sempurna dan kemudian dinamakan tari Bedhaya Ketawang.

 SUMBER:
http://sukolaras.wordpress.com/2009/03/06/tari-bedhaya-ketawang/

Kamis, 30 September 2010

definisi budaya

Kebudayaan dapat di definisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang di gunakanya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamanya serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.



 sumber:koentjaraningrat